Surat Kecil untuk Pangeran Tak Berkuda

Terimakasih untuk asa yang terlabuh dalam nama : KHOLISOH RAUDHATUL HASANAH ZAINUL ATSIR

Aku bukanlah Ibunda Maryam yang mampu menjaga kesucian dirinya dengan luar biasa. Yang mampu menjaga kesucian dirinya dari yang bukan mahromnya.
Namun Ayah berharap kelak aku menjadi anak yang menjaga kesucian dirinya layaknya Ibunda Maryam.
Aku juga bukan nabi ibrahim yang mempunyai keimanan yang suci. Sosok manusia yang teguh keimanannya karena murni ketauhidannya.
Namun Ayah berharap kelak aku menjadi anak yang mampu meneladani beliau. Menjadi sosok hamba Allah yang murni akan penghambaannya pada Robbnya.
Aku juga bukan nabi Muhammad, yang terkenal jujur hingga mendapat gelar Al-amiin. Bukan pula Abu Bakar yang benar akan ucapan dan persaksiannya.
Namun Ayah berharap kelak anaknya menjadi sosok manusia yang murni ucapannya tanpa dusta. Murni pikirannya tanpa prasangka, dan murni perbuatannya tanpa khianat yang menjadi cela.
Terimakasih Ayah atas KHOLISOH yang kau beri.

Aku bukanlah Hasan dan Husain, 2 bocah kecil kesayangan Rasulullah yang menjadi pelipur lara.
Namun Ayah berharap kelak aku menjadi seperti mereka, menjadi qurrota a’yun baginya. Tempat yang menjadi pelipur lara.
Aku bukanlah Khadijah yang menjadi tempat Rasul bersandar kala lelah dan penat menyapa.
Namun Ayah berharap kelak aku menjadi orang yang mampu meringankan beban sesama.
Aku bukan Nabi Ismail yang menjadi penyempurna kebahagiaan Ibrahim.
Namun Ayah berharap, kelak anaknya mampu menjadi penyempurna kebahagiaan dan rahmat yang tak terkira.
Terimakasih ayah atas RAUDHATUL yang kau beri.

Aku bukanlah Nabi Muhammad yang di jamin oleh Allah sebagai Uswatun Hasanah.
Namun Ayah berharap kelak anaknya menjadi anak yang mampu memberi contoh kebaikan.
Aku bukanlah para sahabat yang punya sejuta kebaikan hingga Allah hadiahkan surga baginya.
Namun Ayah berharap kelak aku menjadi orang yang banyak menebar kebaikan, sehingga hidup dengan penuh ketentraman.
Aku bukanlah Umar bin Khattab yang mampu berhijrah dengan totalitas pada sebuah kebenaran dan kebaikan.
Namun Ayah berharap hidupku dipenuhi dengan kebaikan yang berlimpah, dan Ayah berharap Allah limpahkan kebaikan pada anaknya lewat orang-orang disekitarnya.
Terimakasih Ayah atas HASANAH yang kau beri.

Aku bukanlah Ibunda Hawa yang menjadi penghias Adam.
Namun Ayah berharap kelak aku menjadi anak yang menjadi penghias kehidupannya.
Aku bukanlah Ibunda Aisyah yang cerdas dan berakhlak mulia.
Namun Ayah berharap kelak aku menjadi anak yang mampu menghias diri dengan ilmu dan akhlak karimah.
Terimakasih Ayah atas ZAINUL yang kau beri.

Aku bukanlah Abdurrahman bin Auf yang menolong kaum muslim karna berlimpah hartanya.
Aku pun bukan para sahabat yang menjadi penolong nabi Muhammad saat di medan perang.
Namun Ayah berharap kelak anaknya akan menjadi penolong agama-Nya. Menjadi orang yang membela Rasul dan Islam karna keimanannya
Terimakasih Ayah atas ATSIR yang kau beri.

Hanya Aamiin dalam penuh pengharapan yang mampu ku lantunkan. Maaf jika apa yang kau harapkan belum terpancar dari anakmu.

Jangan pernah berhenti berdoa, Ayah..
Karna doa dan asa mu-lah yang menjadi alarmku dalam berbenah diri. Hanya semoga yang kupanjat. Kesemogaan agar doamu terdengar hingga ke arsy-Nya. Kesemogaan agar malaikat turut mendoakan.

Bandung, 20.02.18, 23.54

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *